Mengenal P2P Lending, Investasi Jangka Pendek Yang Populer


Mumpung masih muda lebih enak berinvestasi aplagi sekarang diera pandemi seperti sekarang ini mengatur keuangan jadi tidak teratur pengeluaran banyak akan tetapi pemasukkan tidak ada. Ada investasi jangka pendek yang sangat digemari diera digital seperti sekarang ini, apakah itu ya?
Investasi tersebut adalah P2P Lending, apa itu Investasi P2P Lending? Apa keuntungan dari investasi P2P? Buat yang belum tau mengenai P2P Lending mari kita bahas bersama.


Apa itu P2P Lending?

P2P (Peer to Peer) Lending adalah sebuah platform yang mempertemukan antara pendana atau pemberi pinjaman agar terjadi interaksi antar pinjam meminjam. Peer to Peer ini juga sudah diatur oleh otoritas jasa keuangan OJK pada peraturan nomor POJK 77/2016.



Cara Kerja Investasi P2P Lending

Seperti yang dikutip diatas kalau P2P Lending ini adalah sebuah platform yang mempertemukan antara pendana atau pemberi pinjaman agar terjadi interaksi antar pinjam meminjam atau seseorang yang membutuhkan pinjaman.
Investasi P2P Lending ini memiliki banyak sekali pembiayaan kondusif dan produktif, buat yang masih bingung mari ulas bersama.


Pembiayaan Produktif adalah pembiayaan invoice atau invoice ini yang disediakan untuk para UMKM yang dimana menunggu pembayaran tagihan yang dikirim kepada pemberi kerja UKM. Biasanya, UKM tersebut baru akan dibayar antara 1-6 bulan, atau rata-rata biasanya perlu menunggu sekitar 3-4 bulan. Untuk itulah, UKM memerlukan pinjaman dari pendana untuk membantu berjalannya roda bisnis tersebut.
Jumlah pinjaman yang bisa diberikan maksimal hanya 70-80% dari nilai invoice UKM tersebut. Jika sudah dibayar oleh pemberi kerja, maka UKM membayarkan kembali pinjamannya. Kemudian, UKM akan memberikan imbal jasa yang diberikan kepada pendana berkisar antara setara dengan 12-20% p.a. dengan rata-rata imbal jasa antara 14 – 15% p.a. Dalam skema syariah yang dilakukan di ALAMI, imbal jasa tersebut bisa diberikan karena jasa pendana yang telah mengambil alih penyelesaian tagihan UKM tersebut.


Ketika memutuskan untuk mendanai suatu UKM, ALAMI akan memberikan keterangan lengkap estimasi imbal jasa yang kamu dapatkan dalam jumlah rupiah sesuai dengan pendanaan yang kamu lakukan. Misalnya, kamu bersedia untuk mendanai sebesar Rp 10.000.000 untuk proyek pembiayaan UKM yang mempunyai rating 3 bintang dan memberikan imbal jasa setara dengan 15% p.a. dan tenor pembayaran selama 4 bulan. Maka, dalam waktu 3 bulan, imbal jasa yang kamu terima adalah sebagai berikut:


90/360 x I5% x Rp. 10.000.000 = Rp375.000,- 

Uang yang kamu terima setelah 3 bulan adalah Rp10.375.000,- Kamu bisa punya pilihan untuk menarik kembali uang tersebut, atau kembali diputar di pembiayaan lainnya setelah uang tersebut kamu terima.


Jika kamu membutuhkan waktu 2-3 tahun untuk mengumpulkan uang lebih dari Rp10.000.000 tersebut, kamu punya kesempatan mendanai sekitar 3-4 kali dalam setahun.


Total pembiayaan yang kamu lakukan dalam jangka waktu 3 tahun bisa sampai 10 kali. Jika ujrah yang kamu terima berkisar antara Rp375.000 dari setiap pembiayaan, kamu bisa mengumpulkan sekitar Rp3.750.000 dari imbal jasa tersebut.
Dalam jangka waktu 3 tahun, uang kamu dari Rp10.000.000 sudah berkembang menjadi Rp13.750.000. Kamu juga bisa pilih pembiayaan yang menjanjikan imbal jasa yang lebih tinggi lagi untuk meningkatkan estimasi pendapatan yang akan kamu terima.


Selain itu, kamu juga bisa menambah jumlah pendanaan yang kamu masukkan untuk meningkatkan imbal jasa kamu. Atau, kamu bisa menggabungkan jangka waktu yang lebih pendek lagi dari 90 hari, atau menggabungkan lagi dengan yang lebih dari 90 hari untuk mengukur variasi imbal jasa yang kamu dapatkan dan mengoptimalkannya untuk kebutuhan tujuan keuangan kamu.


Keuntungan Berinvestasi di P2P Lending

Seperti instrumen investasi lainnya, P2P Lending menawarkan keuntungan yang bisa kamu nikmati. Berikut ini keuntungan-keuntungan mulai berinvestasi di P2P Lending.


Imbal Hasil yang Menarik

Dibandingkan instrumen investasi lain, P2P Lending memberikan imbal hasil yang tinggi. Kamu bisa mendapatkan imbal hasil mulai dari 18% hingga 25% per tahun. Keuntungan ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan rata-rata inflasi Indonesia yang mencapai 8% per tahun. Imbal hasil ini juga lebih tinggi bila dibandingkan dengan deposito berjangka di bank. Kamu hanya akan mendapatkan keuntungan 5% hingga 8% per tahun jika menyimpan uangmu dalam instrumen deposito.


Modal yang Kecil

Tidak perlu khawatir jika kamu tidak memiliki banyak uang. Kamu bisa memulai investasi dengan modal yang sangat kecil. Di P2P Lending Modal Rakyat misalnya, kamu bisa berinvestasi mulai dari Rp25.000 saja. Dengan modal awal yang sangat kecil ini, kamu tidak punya alasan lagi untuk tidak melakukan investasi, bukan?


Investasi Jangka Pendek yang Likuid

P2P Lending termasuk jenis investasi jangka pendek. Ini karena kamu bisa menikmati keuntungan investasi kurang dari satu tahun. Investasi P2P Lending termasuk investasi yang likuid. Ini karena kamu bisa memilih kapan kamu bisa menerima pengembalian uang dan keuntunganmu. Kamu bisa memilih waktu mulai dari 14 hari, 30 hari, hingga satu tahun.


Risiko Investasi P2P Lending

Tidak ada instrumen investasi yang sempurna, termasuk P2P Lending. Selain mengetahui kelebihan atau keuntungan dari investasi P2P Lending, kamu juga harus memahami risiko investasi ini. Berikut pembahasannya.

Borrower Terlambat Membayar atau Gagal Bayar

Seperti yang sudah dibahas sebelumnya, cara kerja P2P Lending adalah seorang lender menginvestasikan uangnya dalam bentuk pinjaman modal usaha kepada lender. Dengan begitu, ada risiko borrower terlambat membayar kredit pinjaman atau justru gagal membayar pinjaman.
Tim P2P Lending tentu akan menyeleksi siapa saja yang bisa mengajukan pinjaman untuk mengurangi risiko tersebut. Mereka akan meminta calon borrower mengumpulkan berkas untuk melihat performa keuangan calon borrower. 


Perusahaan Fintech P2P Lending Tidak Bisa Menjamin Borrower dan Lender

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku pengawas perusahaan fintech Indonesia melarang perusahaan P2P Lending memberikan jaminan baik kepada borrower atau lender. Misalnya, P2P Lending tidak boleh memberikan jaminan bahwa borrower pasti akan memperoleh dana pinjaman yang diajukan. Kepada lender, P2P Lending tidak boleh menjadi bahwa lender pasti akan mendapatkan keuntungan yang paling tinggi. Risiko interaksi pinjam-meminjam antara lender dan borrower ditanggung oleh pengguna P2P Lending. Perusahaan fintech ini hanya sebagai wadah untuk memfasilitasi terjadinya interaksi tersebut.


Tidak Bisa Menarik Dana Kapan Saja

Meskipun investasi ini likuid, kamu tidak bisa menarik dana yang sudah kamu investasikan kapan saja. Ada tenor atau waktu pinjaman yang sudah ditentukan sebelumnya. Kamu tidak bisa menarik uangmu sebelum borrower mengembalikan uangmu. Oleh karena itu, kamu harus cermat dalam menentukan tenor pinjaman sesuai dengan kebutuhan dan kondisi keuanganmu.



Setelah mengetahui apa itu Investasi P2P Lending, nah ada salah satu platform yang mempertemukan antara pendana atau pemberi pinjaman yang sudah terpercaya yang bernama Amatha, Berdiri sejak 2010, Amartha adalah pionir fintech (financial technology) peer-to-peer (P2P) lending online di Indonesia, alternatif investasi yang baik yang menghubungkan Anda dengan pengusaha mikro pedesaan melalui pinjaman modal, memberikan keuntungan bersaing, dan dampak sosial.